Blogs

HIDUP LEBIH SEDERHANA HIDUP TERBEBAS DARI MEDSOS {LIVE SIMPLY LIVE FREE OF SOCIAL MEDIA}

New Picture 16

Hapus Akun!

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Kejadian Twitter dan Facebook kemudian diikuti Amazon dan Google memblok President Amerika Serikat, Donald Trump telah membuatku kembali kepada pemikiran lama tentang apakah media sosial betul diperlukan? Bukankah medsos ada dan tiada kita tetap ada? Apakah mudaratnya setimpal dengan manfaatnya? Apakah kesenangan itu nyata padahal jelas-jelas semu? Apakah itu menghabiskan waktu atau membuang waktu? Apakah sadar bahwa pelanggan tak berbayar itu sebenarnya tak sepenuhnya tak berbayar? Bukannya sudah tahu jargon “medsos sosial diperlukan pada zaman kini” adalah propaganda bisnis yang telah kita telan habis-habis?

Sekarang kita perlu medsos, Nak kataku kepada anakku suatu hari, kita hidup di zaman medsos bahkan nanti mau masuk bandara Amerika katanya ditanya alamat FB-nya loh, jadi buatlah akun FB atas namamu yang benar!

“Buatlah IG juga… .” Kayaknya aku sedang mendorong anakku ke jurang sementara dia sudah mengatakan gak suka dan gak perlu!

Aku sebenarnya menyadari diriku perlu tidak perlu memilik medsos tetapi kok punya banyak akun medsos?

Jauh sebelum aku memiliki media sosial waktuku lebih banyak untuk anakku, kualitas tidurku lebih baik dan semakin banyak racun masuk di kepalaku maka otomatis semakin banyak usahaku untuk membuang dan menangkal racun itu. Mengurusi akun-akun palsu dan orang-orang jahat dari dunia maya yang terlanjur terkoneksi denganku. Semakin banyak mengetahui yang tidak perlu diketahui. Hidupku jauh lebih tenteram dan damai sebelum mempunyai akun medsos

Dengan frekuensi pemakaian medsos yang menurutku masih sangat terbatas urusan tulisan-tulisanku saja telah mengambil perhatianku sangat banyak. Pertanyaannya mengapa aku masih mau berada di antara nyata dan tidak nyata?

Oke, katanya memberi jempol kepada kawan yang sedang pamer bunganya juga untuk menyenangkan diri sendiri tetapi diriku biasa saja saat kutanya dan tentu donk yang menerimanya akan senang tetapi kalau ditanya gak juga tuh biasa-biasa aja katnya, jadi maksudnya memberikan like, comment, share itu sebenarnya untuk menyenangkan bos medsos po?

Atau ini sarana untuk aktualisasi diri namun kata psikolog nanti terhadap orang-orang yang hobi selfie itu karena mereka sedang berusaha mengisi jiwanya yang mengalami busung lapar.

Baiklah, kalau itu diyakini sebagai media yang efektif untuk memasang iklan tetapi bagaimana dengan akun yang tidak pernah pasang iklan sampai akhir hayatnya? Lebih dari milyaran akun ga pernah pasang iklan to? Lalu semakin aku tanya semakin aku ‘mudenk’ mengapa mereka tidak bangkrut-bangkrut! Oh, rupanya bukan karena berapa jumlah akun yang pasang iklan tetapi dikarenakan berapa akun yang nonton iklan!

Hidup mati pemain teknologi itu adalah tergantung populasi akun yang bergabung dan bagaimana cara menjualnya, dalam hal ini semua akun; akun aktif, setengah aktif dan pasif yang menonton iklan. Jadi sebenarnya sebagai akun aktif akulah yang pasang iklan dengan peran sebagai penonton iklan itu sendiri? GUBrAKK! Aku seolah dibayar untuk menonton tetapi sebenarnya aku yang membayar atau bisa dikatakan dibayar untuk tidak menerima upah. Berarti kita adalah anggota medsos yang sengaja digratiskan untuk dijadikan objek donk?

Kalau dipikir lagi media sosial adalah tempat jualan yang fantastik tetapi aku tidak pernah sekalipun jualan bukuku di sana, atau menjual makanan dari resto onlineku. Jika aku mengatakan”belilah bukuku” maka akan terdengar seperti “belilah idealismeku” atau “belilah makananku” juga akan terasa bagiku seperti “belilah cintaku“.

Kalau dibilang untuk cari kerja aku tidak pernah mencari kerja lagi.

Kalau medsos untuk mencari pasangan hooho..aku manalah pernah cari pasangan di sana.

Kalau diteruskan lagi, medsos untuk kampanye politik nah.. ini kuakui pernah memakainya dan sangat kuperlukan saat itu. Kalau ga ada medsos negara ini bisa dipegang kadrun hari ini, tapi tunggu sebentar waktu itu aku pikir bahwa itu sangat efektif tetapi hari ini aku pikir lagi apa yang kumaksud efektif itu sebenarnya belum bisa dibuktikan secara konkrit. Kita hanya melihat jumlah angka yang like atau sekalipun kita bisa membaca teks komentar orang-orang tetapi siapa yang tahu orang itu palsu atau orang asli. Jadi gak bisa dijadikan ukuran.

Inilah yang disebut balada anak manusia yang berjuang untuk keluar dari ‘jeratan’ medsos;

Jadi, rupanya kehidupan setelah medsos memberikan kepadaku cita-cita yang baru. Aku pernah punya cita-cita untuk bisa lepas total dari semua medsos tetapi aku selalu gagal mencapainya karena membela profesi utamaku sebagai penulis. Jujur aku katakan masih ada sebagian kecil dalam diriku bahwa menulis itu untuk dibaca orang lain sehingga aku perlu memberitahu orang-orang, “Halo, Woi! Aku sudah menulis ini dan itu, bacalah!” Jujur lagi sebenarnya aku juga sudah tahu menulis adalah proses mengolah pikiran, memperkaya jiwa dan memperkuat hati. Menulis itu untuk diri sendiri! Ampun jahanam…

Flashback kembali pada suatu masa yang telah lamaaaa…sekali yang telah berlalu; Suatu hari setelah kami pindah dari Jakarta ke Temanggung dan entah bagaimana tiba-tiba jadi penulis. Caraku mengenalkan bukuku dulu rupanya menyentuh hati seorang kawan yang bernama Wulan. Dari situ berawal, pada bulan September tahun 2011 tanggal 23 sebuah page FB atas namaku dibangun untukku. Awalnya aku sangat ‘cupu’ sekali memakai medsos padahal wong Jakarte. Mbak Wulan inilah yang awalnya membantu jadi admin page-ku namun lama-lama aku yang teruskan sendiri.

Katanya Mbak Wulan ada pedagang batik omsetnya 1 M gegare jualan di FB. Otak primitif bertahan segera terpacu. Kemudian akun-akun medsos-ku yang lain mulai bertaburan. Aku sebut bertaburan karena sungguh memang banyak sebenarnya akun medsosku sampai aku lupa menutupnya dan mungkin mereka sudah mati berdiri di sana.

Aku jadi mempelajari grafik perkembangan perilaku diriku sebagai makhluk korban medsos yang punya kepentingan terkenal, uang dan politik (yang ini saat jadi relawan). Kalau kau dapat polaku coba cocokkan ke polamu, yaitu; pertama-tama terjadi euforia dengan menambah teman sebanyak-banyaknya. Mesin medsos memblok berkali-kali. Habiskan waktu untuk mengurus akun yang diblok. Sering kali menambah atau menerima kawan baru tanpa melihat latar belakangnya. Nanti mau menyeleksi latar belakang kawang-kawan itu secara pelan-pelan setelah sempat namun tidak pernah dilakukan. Akun tambah ramai tambah sibuk. Urusan reset password-lah, login yang ilegal-lah, harus buat pengamanan kedua, membalas membaca notif-lah yang masuk-lah. Pokoknya jadi refot dan sewot punya medsos.

Masa-masa pembangunan akun itu kadang memakan waktu bertahun-tahun kalau tanpa budget iklan. Setelah masa-masa pembangunan itu kalau masih merasa belum cukup maka memakai jalan tikus dengan membeli akun palsu, memaksa orang ikuti kita, mengemis like, comment; tetapi untung ini bukan diriku. Aku masih berusaha di jalan jaim.

Aku pernah menemukan pagelike FB seorang calon R2 yang gagal dari Golkar tiba-tiba membuncit dalam waktu 2 minggu dari nol menjadi 100K. Itu artinya ia buang uang 100 juta untuk kita yang nonton tapi masuk ke bos FB.

Hadeuhhh duu duuhh..zaman zaman…

Satu hal lagi yang penting soal medsos saat aku lagi cari barang di marketplace FB memang gila apa saja dijual di sana namun harganya Rp 1 semua. Pernah pengen sekali makan jambu jamaika karena pernah dikasih tetanggaku, mantap sekali rasanya lalu aku mencarinya di sana dan ketemu. Tahu gak aku beli berapa kg? Lima kg kuborong sampai dia manjat pohon tetangga karena punya dia kurang. Juga pernah aku membeli asam jawa dan mau mencoba membeli gula aren dari Temanggung tetapi tidak jadi, mau order strawbery dari Bandung batal karena kejauhan dan minta 5 kg juga. Gila kali ‘nelen’ strawberry 5 kg…

Hadeuhhh duu duuhh..duhh….zaman zaman…

Teman, entahlah mungkin aku ingin mengejar cita-citaku seperti dalam bahasa Inggris bilang “my dream comes true”. Atau mungkin sudah waktunya memerdekakan diriku sebagai objek medsos, dalam status quo perlu tidak perlu itu ternyata tidak membuat nyaman seperti ada yang kurang. Atau aku berani melakukannya karena masih punya platform pribadiku, websiteku adalah kebebasanku.

Well well…

Langsung saja, aku sebenarnya tidak suka dengan arogansi bos-bos FB, Twitter, Google, Amazon itu!!! Mereka itu siapa? Mereka itu manusia sama dengan kita kan? Kalau mau aku katakan sangat bisa aku katakan bahwa dari mana ISIS membangun jaringan dan memperdaya begitu banyak anak muda untuk bergabung dengan mereka kalau tidak dari FB, Twitter, Wa, HAHH! Dari mana ilmu-ilmu merakit bom itu dipelajari oleh teroris kalau tidak dari YT, hah! Kalian punya kontribusi atas kehancuran di atas bumi ini! Kalian adalah orang yang paling berdosa di muka bumi ini karena kehancuran itu berdiri di atas fitur teknology yang kalian bangun! Tindakan mereka layaknya “Presiden Planet Bumi” Kalau mereka saja berani membungkam Presiden Amerika apalagi aku ini si angin yang tidak ada artinya.

Hadeuhhh duu duuhh..duhh….zaman zaman…zaman…

Masih adalah beberapa orang yang mencariku di medsos, jadi kepada merekalah aku berbicara seharusnya: Jadi, bila kau tidak menemukan aku lagi di platform dimana aku biasa kau temukan maka pastikanlah terlebih dahulu bahwa aku belum mati oke; Oh ya! inilah yang paling aku suka juga dari medsos, yaitu mencari orang mati di medsos! Aku pernah mencari kawanku di FB beberapa bulan lalu, tiba-tiba aku teringat kepadanya, akhirnya aku berhasil menemukan foto pemakamannya 2 tahun lalu.

Ciaoo..bye bye medsos.

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU. LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.