Blogs

KEWARASAN MENUNTUT KESADARAN PENUH TENTANG AKU INI SIAPA—KOK BISA MENJADI CORO? {SANITY SUES A FULL AWARENESS ABOUT I AM WHO — HOW I CAN BE COCKROACH?}

Post Coro

Coro

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Makanya mengapa sangat-sangat penting menjaga pikiran selalu waras agar waktu tua tidak jadi coro! Semenjak Pilkada-DKI 2017 memanas coro-coro tua pun bermunculan. Masing-masing mengambil peran, ada yang suplai dana dari hasil korupsi, ada yang bawa pedang, ada yang jago provokasi, melakukan orasi liar dan yang mengerikan mereka memakai dalil agama.

Manusia yang sudah melewati masa produktif, kalau menurut teori ilmu agama maupun kesehatan jiwa, mereka kan seharusnya sedang memasuki fase tenang dan mempersiapkan kehidupan surga dalam sisa waktu yang masih ada agar mati tidak gentayangan tetapi sebaliknya seperti kompor meleduk bersama dengan coro-coro paruh baya mengumbar syahwat.

Isu yang mereka kemukakan boleh apa saja silakan tetapi sayang kabar baiknya, generasi muda dan yang masih bisa berpikir waras menganggapnya sampah! Seperti isu PKI, komunis atau Indonesia akan dikuasai Aseng hanyalah alat propaganda jahat mereka demi obsesi pribadi yang belum kesampaian. Rasanya ingin muntah mendengarnya! Apakah mereka pernah melakukan sebuah riset bahwa orang-orang yang mereka tuduh PKI atau komunis itu lebih berguna hidupnya dibandingkan coro?

Pada zaman begitu terbuka seperti ini dan ketika pandangan sebagian besar generasi muda tentang dunia berbagi, hidup berdampingan serta mengembangkan pembangunan berkelanjutan dengan sikap toleransi dan berkarya karena planet yang kita miliki dan bisa ditinggali baru hanya satu-satunya bumi ini maka apakah tema PKI dan komunis masih laku dijual? Jalan saja dituntun tongkat tetapi teriak sana teriak sini revolusi apa masih ada yang mau mendengar mereka kecuali orang-orang yang berpikiran cetek?

Kalau kita bilang mereka gila mereka belum gila, kalau dibilang pikun memang sedang menuju ke sana. Engsel-engsel tubuh saja mulai kendur dan terganggunya sistem koordinasi, bagaimana mungkin kita percaya teori mereka? Menyampaikan sebuah teori apalagi yang berhubungan dengan sistem dan tata kelola negara seperti obsesi mereka untuk kembali ke Amandemen UUD 1945 kalaupun itu benar, mereka harus melakukan penelitian yang profesional dan mengukur dengan cara yang terukur dan bukan dengan cara pasar dan preman. Sangatlah amat besar dosa orang-orang seperti ini karena sengaja mengaitkan nilai agama yang suci ke dalam dalil-dalil mereka yang gelap.

Untuk mengetahui dalil mereka gelap dan sesat tanpa merujuk ke ayat-ayat suci sangatlah mudah, pertama dari sikap dan perilaku hidup mereka, kedua dari cara mereka menyampaikannya, ketiga coba nilai apakah mereka lebih bermanfaat dari orang-orang yang mereka serang dan keempat adalah menurut kalian apakah mereka itu sumber solusi atau sumber masalah? Baru bicara ayat-ayat suci!!!!

Manusia yang sedang menuju masa tua, kalau pada masa paruh payah belum berhasil mengelola masalah-masalah pribadi seperti hawa nafsu, kebencian, kecemburuan, sifat-sifat tikus dan gejolak yang tidak teratur, mentok-mentok jenjang karirnya menjadi coro atau tetap sebagai tikus kelaparan.

Kaum muda zaman kini sangat kritis, tidak mudah menerima apa yang dikatakan oleh pengumbar stok lama. Kaum muda mempunyai cara berpikirnya sendiri dan bahkan kaum muda abad kini lebih bijak dibandingkan mereka karena kaum muda mengakses informasi berimbang lebih banyak dibandingkan kaum tua yang pegang gadget saja gemetar. Kita sebenarnya kasihan kalau mereka hidup lebih lama karena menjadi bahan olok-olok. Mereka hanya akan menggerogoti pajak-pajak rakyat.

Mereka hanya bisa berkoar-koar dan membuat keresahan di darat, udara dan maya. Membuat macet jalan, mengisi server you tube dengan orasi-orasi provokasi yang sebenarnya membuat kita enek. Kok edan dibina? Persoalan kemiskinan yang masih ada, kesenjangan yang terjadi dan tentang Indonesia hari ini bukankah mereka bagian dari penanggung jawabnya? Mereka hanya mampu memakai nama agama karena mereka tahu apa yang mereka suarakan teorinya didasari dari kebencian dan akal bulus dari perut yang masih lapar.

Apakah mereka sadar telah membuat malu keluarga? Apakah mereka sadar sudah tua kok sepanjang hidup menjadi sumber masalah?

Hidup dengan kewarasan menuntut kesadaran penuh tentang aku ini siapa—mengapa bisa menjadi coro? Aku ini sedang apa dan mau apa—mengapa masyarakat menilainya sampah? Tentang hubungan sebab-akibat membutuhkan kejujuran pada diri yang paling dalam.

Maksud Tuhan menciptakan manusia sangat spektakuler sebenarnya yaitu agar manusia menjadi seperti rupanya, tetapi rupa-rupanya menjadi corrrooo! Selain coro, juga terdapat kelas makhluk yang gagal menjadi manusia seutuhnya yaitu tikus dan keledai yang masih asyik dalam pengembaraan kedunguannya.

Sebagian besar coro adalah hasil transformasi tuntas dari tikus-tikus yang tidak tertangkap tetapi masih butuh panggung dan belum bisa menghilangkan sifat pencurinya. Sebagian coro yang lain menjelma jadi santun, menjadi juru dakwah dan mengajak orang-orang bertobat dalam kesesatan mereka! Kalau dalil mereka diterima hanya keledai dungu-lah yang mengikutinya! Besar sekali dosa mereka karena kedunguan keledai sengaja mereka pelihara agar kelak menjadi “setan” untuk memperjuangkan visi misi mereka yang busuk!

Samar-samar seperti malaikat tetapi sebenarnya dedemit. Itulah coro, tikus dan keledai!

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU.LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply


9 − 1 =