Blogs

HIDUP INI TIDAK SEMUDAH KATA-KATA NAMUN BISA SEINDAH BUNGA-BUNGA {LIFE IS NOT EASY AS WORDS BUT LIFE CAN BE BEAUTIFUL AS FLOWERS}

Post Ss

Dosa Motivator

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Sebenarnya tulisan ini sempat mengalami pelemahan dalam diriku, setelah separuh jalan ditulis aku pertimbangkan kembali, sebegitu pentingkah isu “motivator’ itu sehingga harus aku sisikan perhatian untuk kasusnya? Ini terkait tulisan yang bisa membawa manfaat kepada masyarakat yang selalu ingin aku lakukan. Sesuai dengan peranku sebagai penulis yang ingin memberi perimbangan dan hatiku telah terusik.

Tanpa menyebut namanya publik sudah bisa tebak siapa motivator itu. Aku bukan takut dilaporin polisi sehingga tidak berani menyebut orangnya. Fokusku tiga hal yaitu pertama tentang perilaku manusia menyikapi suatu masalah apabila kasus ini murni, kedua cara meraih sesuatu apabila kasus ini rekayasa dan ketiga apapun kisah akhirnya publik membutuhkan perimbangan informasi.

Baiklah, langsung pada pokok cerita, ini tentang “anak yang sedang mencari pengakuan papa”. Kebetulan papanya seorang motivator yang dikagumi jutaan orang. “Hidup ini memang sangat ajaib!” Hmnn…aku benar-benar ‘keki’ dengan reaksinya sehingga mengatakan dengan frasa lain “hidup ini memang ajaib”. Itu analisaku yang pertama bahwa kasus ini murni.

Kalau benar kasus ini murni, seharusnya ia minta maaf kepada publik sejak dini demi apa yang telah ia tanam ke dalam kepala pengikutnya selama ini. Karena “kebetulan” nasihat yang ia berikan mampu menyihir penggemarnya kalau dilihat dari angka penyuka dirinya. Aku memakai kata “kebetulan” karena manusia tidak sepenuhnya linier menerima sesuatu itu baik adalah baik atau buruk adalah buruk dan sekaligus sang motivator dipastikan bukanlah makhluk super yang steril dari kesalahan.

Jangankan kata maaf, sang motivator malah terus sibuk membuat meme dan masih saja memberi nasihat seolah-olah ia sedang happy-happy di Hongkong sehingga dengan mudah membuat nasihat padahal integritasnya sebagai motivator sedang diragukan.

Pernyataannya beberapa jam lalu, “Para pembenci dan penganut fitnah mencaci dan menghina nasihat, bahkan status doa, sehingga kurang tepat jika kita membiarkan kebaikan dihina oleh orang-orang berhati keji,” [detik]. Menurutku pernyataan ini adalah pembodohan nurani yang paling sesat yang dilakukan seorang motivator. Dalam konteks penggemar yang memberi komentar negatif di fan page-nya mungkin ia asumsikan sebagai sumber masalah. Alangkah disayangkan, ternyata sang master tidak menyadari bahwa dirinyalah ‘sumber masalah’! Sumber dalam arti tujuan isu kepada siapa. Kalau motivator mengerti sebagai ‘sumber masalah’ maka sejak awal dirinya sudah menghentikan semua meme dan tayangan nasihatnya sementara waktu.

Kalau ia masih belum paham maka mungkin sedikit agak kasar begini, “Hentikan semua omong kosongmu! Baunya busuk!” Itu maksud penggemarnya agar ia segera tarik diri dan evaluasi! Perkara isu itu benar atau tidak bukanlah konsentrasi publik. Publik sungguh tidak peduli apakah ia mempunyai 10 anak atau 20 istri namun sekali lagi yang publik ingin sampaikan adalah bahwa ada konsekuensi bagi publik figure agar memanfaatkan ruang publik untuk hal-hal membangun. Sekarang aku tanya kepada motivator kalau sedang diterpa kasus seperti ini apa masih bisa memberikan nasihat yang jernih? Coba deh pertimbangkan!

Tentang analisa kedua, mengapa sempat tidak ingin aku lanjutkan tulisan ini awalnya karena aku seperti mencium ada ‘persekongkolan besar’ dibalik ini semua. Sebuah skenario menaikkan rating karena Agustus ini acaranya pindah ke televisi yang menyiarkan video bantahannya. Karena hatiku terusik, biasanya aku tergerak sendiri mempelajarinya, jujur berulang-ulang aku putar video tersebut dan mencoba menganalisa bahasa wajahnya. Beberapa sumber aku pelajari. Hasilnya apa tentu tidak akan aku beberkan di sini. Analisa ini aku perlukan untuk memperkuat tulisanku agar bisa berimbang dan bukan untuk menjatuhkan siapapun.

Kecurigaanku beralasan dan cukup lumayan konsisten kunilai, yaitu ke-1 sempat setahun tayang di TV milik seorang pengusaha yang kece dan mungkin kurang peminat lalu pindah ke “K”, kalau pindah tentu harus lebih baik donk maka sangatlah masuk akal pakai ‘cara super’, ke-2 “K” esok paginya segera melakukan wawancara sesaat viral dan rasanya kurang koheren dengan reputasi “K” yang selama ini mereka pegang, bukannya dihentikan tetapi makin digosok terus, ke-3 hingga malam ini belum dengar “K” akan menghentikan acaranya walau publik sudah mulai mempertanyakan, ke-4 aku mencoba menghubungi anaknya dengan kata-kata dukungan tetapi aneh kok tidak dibalas, ke-5 dengan mudahnya keluarga ikut campur, ke-6 ketiga pihak (bapak, anak, adik) bertikai semua punya bisnis masing-masing, ke-7 motivator marah kepada penggemarnya dan bukan kepada anaknya atau televisi yang menayangkan kasus ini, ke-8 dua akun dilapor (belum jelas keaslian akun ini), ke-9 motivator masih nekat bertahan seminggu dengan membuat meme dan baru malam ini ada pernyataan stop darinya, ke-10 belum dengar ada pernyataan dari istri pertama dan ke-11 siapa bisa jamin tidak ada ‘proyek bersama’ dengan aktor pemicu viral televisi “T” karena mereka sangat cakap urusan beginian.

Dalam analisa kedua aku seperti mencium ada peningkatan suhu yang seolah sengaja diatur dan peganganku hanya satu kalau media tidak menghentikan acaranya berarti kasus ini kemungkinan besar tidak murni (red: aku harap bukan analisa kedua yang terjadi). Cara-cara seperti ini untuk menaikkan rating sudah rahasia umum dan sudah tidak zaman. Gosip yang paling gila sudah banyak dicoba pihak-pihak yang kini tinggal kenangan. Dari memakai pakaian berlian sampai tidak pakai sudah diuji. Ternyata isu selingkuh, anak haram anak kandung, kawin siri dan isu terkait seksualitas adalah masih paling bisa memecah perhatian masyarakat. Hnn, percobaan bunuh diri kapan ya? Gerrrrr…

Terkait ini murni atau rekayasa, bukan ingin memperkeruh suasana apalagi hanya ingin menjaring ikan sekarat, terus terang aku yang bukan penggemar dan tidak pernah menonton acaranya sekali pun bisa sewot bagaimana dengan penggemar beratnya? Tidak main-main loh, ada 20 juta orang lebih menjadi pengikutnya. Apakah ia sungguh mengerti apa artinya menjadi motivator dan konsekuensi atas semua ajarannya yang kebetulan lagi telah diaminkan penggemarnya? Kalau dia masih bisa marah (serius atau pura-pura, tidak masalah) dengan tulisan ini atau kepada kritikan penggemarnya mungkin kita harus simpulkan mungkinkah sebagian besar penggemarnya “robot”.

Kata “robot” lebih baik daripada pakai “akun palsu” kan? Jangan salah baca nanti tulisanku jadi viral karena kau laporkan juga. Maksudku untuk menegakkan nalar pada rel yang sesungguhnya, ketakutan terkait kehilangan ketenaran harus disingkirkan jauh-jauh. Saya kira ini bukan karena dendam, karena warisan tetapi pada nilai jual nama seorang motivator akan merosot. Sering kali orang reaktif untuk maksud menyelamatkan bangunan tetapi malah sebaliknya puing-puing yang dikais.

Murni atau rekayasa, jeleknya nasib orang terkenal itu, kalau sudah yang apik-apik melambung maka siap-siaplah yang ‘elek-elek’ sekali tiup saja bisa dibuat meroket. Dulu mungkin bisa mengontrol media untuk melambungkan popularitas dan dengan media pula kau dibuatnya meroket, namun nasib roket hanya ada dua, tetap mengembara di ruang hampa atau jatuh ke bumi. Seperti debu di tanah yang jatuh kalau kau memakai cara-cara tidak elegan menyelesaikan masalah atau meraih sesuatu karena apakah media pernah berjanji bisa mengendalikan setiap hati manusia hingga setiap saat?

Apapun epik kisahnya, awal mulanya manusia itu polos. Kepolosan sering dikaitkan hati yang putih dan hati putih sangat dekat dengan hal-hal baik. Aku percaya beliau memperjuangkan hal-hal yang baik, ini kalau benar kasus murni maka ini hanyalah bagian masa lalu yang harus disikapi dengan bijaksana.

Tanpa rasa berdosa seorang bayi pipis di pangkuan bapaknya, kemudian pada suatu hari ia ke taman mau mengejar kumbang sambil makan es kirim, es krim sebagian jatuh mengenai celananya, mulutnya cemong seperti kumis kucing, bapaknya tersenyum bahagia melihat anaknya telah beranjak dewasa. Seperti musim tidak kenal waktu manusia berubah begitu cepat. Penderitaan manusia modern kini pada agama baru yang dipeluknya, 99,9% lebih dari 8 milyar jumlah penduduk dunia adalah pemeluk agama uang padahal materi hanya akan memperbesar ruang ketakutan dalam diri manusia terhadap kehilangan, yang sesungguhnya memang harus dilepas. Pada akhirnya semua akan sia-sia.

Kita ini memang anak-anak manusia yang sangat lucu, tidak suka sistem monarki tetapi tetap menyembah raja. Uang adalah raja dalam kerajaan manusia yang berlari dengan angka-angka. Kalau dengan mudah mencap orang-orang pasar yang menambahkan besi di timbangan untuk merampas hak orang tidak berpendidikan, orang-orang yang lebih pintar mungkin lupa bahwa memakai ‘permainan psikologis’ untuk meraih sesuatu juga sama rendahnya dengan orang-orang pasar.

Jangan berpikir tulisan ini seperti trik yang dipakai untuk terkenal seperti yang sering dilakukan orang-orang yang doyan publikasi. Sebagai penulis yang fokus pada perjuangan idealisme, aku sungguh tidak punya kepentingan terhadap sang motivator tetapi aku punya kepentingan atas nilai yang ingin kubangun dalam masyarakat. Siapapun dia, karena kejadian ini membuat kita sangat mudah teringat seperti aku mulai teringat kata-kata temanku dulu, katanya aku dan anakku sangat beruntung karena papanya anakku masih bertanggung jawab! Temanku bilang boro-boro bulanan lancar lakinya kabur bagai ditelan bumi.

Dalam dunia persilatan anak-bapak, anakku dalam keluarga yang ‘pecah’ sungguh nasibnya sangat mujur karena bulanan tidak pernah telat dari ayahnya dan bahkan anaknya adalah permata yang paling berharga dalam hidupnya. Ini tentu tidak bisa lepas dari kerelaan diri kami untuk membahagiakan anak yang memang menjadi haknya dan kalau itu termasuk pengorbanan maka masukkanlah itu sebagai pengorbanan atas nama dosa ibu-bapak dan bukan atas nama anak.

Dosa seorang motivator dengan puluhan juta penggemar yang kecewa sangatlah amat berat. Kalau kita andaikan semua ajarannya positif (+) dan reaksinya menghadapi masalah yang kurang bijak kita asumsikan negatif (-) dan atau caranya meraih sesuatu yang mungkin kurang elegan juga negatif (-), maka dalam aritmatika kita sudah tahu kan jawabannya kalau (+) dikali (-) jadinya apa? Tak heran publik marah maksudku dan mohon dimaklumi sebagaimana Anda butuh pemakluman.

Semua akhirnya hanya bisa berkata, “Oh, walah ternyata manusia belaka!” Ini bukan nasihat apalagi salam super. Bagiku siapapun yang bertemu tulisan ini adalah teman seperjalanan yang kebetulan kita bertemu dalam bentuk tulisan, ideku publik harus semakin cerdas dan bijak, lebih mengandalkan dan menggali yang ada di dalam diri karena yang di dalam diri adalah asli yang luar adalah palsu.

Semoga tulisanku cukup berimbang, tidak menjadi kompor tetapi menjadi obor. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Salam Sederhana!

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU.LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply


7 + 7 =