Blogs

HIDUP DARI PHOBIA ANGKA-ANGKA HANYA AKAN MENGHINA KESUCIAN {LIVING BASED ON PHOBIA OF NUMBER WILL HUMILIATE THE HOLINESS}

Post Smw

Agama Samawi

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Konflik mayoritas – minoritas hanya menyebabkan tiga agama Samawi bertukar kamar tanpa menambah jumlah total signifikan dan bahkan mungkin menurun. Teoriku berdasarkan analogi 100 keping harta warisan bapak diperebutkan keturunannya, sebagian ke sisi kanan sebagian ke kiri dan ada juga yang jatuh ke pihak lain. Pihak lain itu adalah Budha. Budha mendapat bonus dari konflik terkait keturunan Abraham.

Dasar pemikiran di atas berdasarkan analisa gradual tentang naik-turun jumlah ketiga agama Samawi dari waktu ke waktu dengan mengambil demografi global yang berpusat di 3 wilayah dimana konflik Kristen-Islam (akibat atau sebab) lebih dominan di sana, yaitu di Teluk Arab-Timur Tengah, dunia belahan Barat dan Indonesia.

Pertama. Mari kita lihat jauh ke belakang, sejak abad pertama hingga penindasan kaum Mamluk terhadap orang Kristen sejak abad ke-13 serta munculnya aktivitas militan Islam di Mesir pada tahun 1970-an, populasi Kristen di Timur Tengah mengalami penurunan sangat drastis. Diperkirakan dari populasi 20% hanya tersisa 5%.

Konflik telah memaksa penduduk Kristen melarikan diri ke dunia Barat daripada dibunuh atau dipaksa membayar pajak yang sangat besar. Sebagian besar terbunuh sangat mengerikan. Jutaan kelompok Kristen di Teluk Arab-Timur Tengah yang masih bertahan hingga kini dan menghindar dari kejaran aparat tetap menyelenggarakan ibadah di bawah tanah dengan identitas tersembunyi bahkan dari saudara dan keluarga sendiri kalau mau selamat.

Sejak perang Suriah berkecamuk dan semakin kuatnya militan garis keras seperti menggilanya ISIS, Kristen di Timur Tengah kemudian mengalami kebangkitan luar biasa. Penambahan jumlah penganut Kristen juga datang dari kaum Muslim yang marah atas tindakan anarkis yang dilakukan atas nama Islam, keputusasaan masyarakat serta menjamurnya tenaga kerja asing di negara-negara teluk dan sebagaimana kita tahu Oman, Abu Dhabi dan Arab adalah sahabat baik AS. Kini sangat mudah mendapatkan video acara Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) di Teluk Arab-Timur Tengah maupun acara pembaptisan di berbagai media. Berapa % peningkatan populasi Kristen di sana tidak ada angka yang pasti karena yang pasti di Timur Tengah hanya jumlah cadangan minyak.

Semua konflik itu terjadi juga ada andil bola panas yang telah dilempar saat Perang Salib sejak tahun 1090. Kristen juga tidak steril dari kekacauan ini dan prajurit Inggris pada masa itu juga banyak melakukan pembantaian kepada kaum Muslim ketika berusaha merebut Yerusalem. Berbagai versi Perang Salib bisa ditemui di google tetapi maksud dari tulisan ini tidak mencari yang benar dan salah tetapi membangun sebuah refleksi bersama.

Kedua. Kemudian kita melihat mayoritas Kristen di negara Barat. Banyak gereja telah ditinggalkan umatnya. Gereja-gereja megah di Eropa telah berubah fungsi menjadi museum. Untuk masuk ke gereja ‘museum’ harus bayar karena sejak ditinggal umatnya dana pemeliharaan mungkin jadi terganggu. Sebuah gereja di London, telah dibeli oleh seorang turunan Turki yang kaya-raya kemudian difungsikan sebagai Mesjid. Gejala krisis iman di kalangan generasi muda terhadap Kristen aliran besar di dunia barat mungkin telah dimulai setelah revolusi industri di Inggris sekitar pertengahan abad ke-17.

Aliran-aliran Kristen yang lebih kecil dan lebih dinamis mendapat limpahan dari umat Kristen aliran besar yang mana masyarakat pada saat itu sudah mulai jenuh dengan tata cara gereja yang monoton serta kecewa dengan skandal gereja yang sempat merebak pada masa itu.

Selain itu, minat untuk mempelajari Islam oleh kaum barat juga kukira sedang meningkat pada masa itu. Kelompok Barat yang terlanjur kecewa dengan gereja, juga mengalami kejenuhan dengan gaya hidup hedonisme. Gelombang “New Age” yang terjadi pada abad ke-19 telah mendorong mereka mempelajari budaya Timur termasuk juga agama Islam.

Situasi itu tidak bertahan lama karena pada abad 20, jaringan radikal besar seperti Al-Qaeda, Taliban, JI, Al-Nusra Front semakin menancapkan kaki. Pecahnya perang saudara di Suriah, diikuti menguatnya militansi ISIS, Boko Haram dan Abu Sayyaf, peledakan dan teror yang masih terus terjadi hingga detik tulisan ini dibuat seperti gelombang menggulung samudera. Abad 20 adalah abad phobia Islam terbesar di dunia. Tindakan mereka telah mencoreng nama Islam secara global dan mungkin ada pihak-pihak yang mulai tertarik dengan Islam mengurungkan niatnya karena kecewa. Karena bagaimana mungkin dalam keadaan phobia sebuah agama bisa tersebar sempurna? Dunia ketakutan dengan agama yang haus darah, sedikit-sedikit menyerukan jihad dan bunuh!

Seiring bom yang terus meledak dan belum ada yang bisa memastikan kapan itu akan berhenti, gelombang kekecewaan dari umat Islam sendiri juga tidak mungkin dibendung. Proses ini sangat alamiah sekali karena seperti pepatah “gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga”. Sebagian umat sangat marah, malu, terpukul dan sedih. Hal ini bisa mendorong orang untuk mengonversi keyakinan agamanya dan menjadi Budha mungkin menjadi pilihan paling netral. Berita tadi pagi yang aku baca dari sumber Independent bahwa telah terjadi banyak konversi iman dari Islam ke Kristen di negara penerima pengungsi dengan berbagai alasan. Sebagian dari mereka mungkin ada yang tidak bebas memilih keyakinannya sewaktu berada di negara asal karena ancaman pembunuhan atau mungkin mereka berpikir untuk mendapat kemudahan di negara tempat mereka mengungsi.

Ada yang menarik terkait pengungsi. Tanpa maksud melukai krisis kemanusiaan yang dihadapi pengungsi dan menodai usaha baik dari berbagai pihak untuk membantu pengungsi. Secara politis, aku kira sebagian pihak mungkin sempat menduga dan bertanya-tanya apakah ini bagian ‘gerakan misionaris Islam besar-besaran’ yang dilakukan Suriah kemudian dibonceng ISIS? Keherananku bertambah setelah melihat Presiden Suriah Bashar al-Assad masih bisa tertawa dengan semua penderitaan rakyatnya!! Pikiran skeptisku kadang menjurus Suriah sengaja menyebar rakyatnya sehingga otomatis Islam tersebar!

Masuknya jutaan pengungsi secara sporadis adalah usaha yang sangat strategis untuk menyebarkan Islam di Barat. Kini hampir 7 juta pengungsi yang mayoritas beragama Islam telah menyebar ke dunia Barat. Bisa dikatakan ini adalah metoda paling cepat dalam penyebaran suatu agama dibandingkan yang dilakukan misionaris Kristen. Misionaris Kristen dulu dikirim ke hutan-hutan, di desa terpencil seorang diri membuka dari nol. Gereja butuh ratusan tahun belum tentu berhasil membentuk 1 juta komunitas Kristen di suatu wilayah sementara 1 juta pengungsi Islam kini telah menetap di Jerman dalam kurun waktu 1-2 tahun ini! Satu juta umat Islam di Jerman akan memainkan dinamika di sana. Mereka secara tidak langsung merupakan duta-duta Islam apalagi Kanselir Angela Merkel telah menyatakan akan melakukan asimilasi terhadap pengungsi. Umat Islam akan terintegrasi bersama 80 juta populasi yang mendiami Jerman.

Apakah ini tidak fantastik? Potensi yang luar biasa besar ini kalau dapat dikelola dengan arif oleh pengungsi Islam maupun Islam secara global dan membuktikan diri sebagai agama rahmatan lil ‘alaminn kepada dunia, niscaya Islam akan berkembang pesat di dunia Barat. Karena hampir semua kebebasan tersedia di dunia Barat, seperti penghargaan terhadap kebebasan dan perlindungan kaum minoritas jauh lebih baik dari negara berkembang dan terbelakang sehingga potensi Islam tumbuh menjadi lebih besar.

Ketiga, kini mari lihat negara yang kita cintai ini. Tahap apa yang sudah kita capai sebagai sebuah bangsa sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia dalam hal melindungi kaum minoritas? Kaum minoritas masih harus terseok-seok mendapatkan kebebasan beragama di sejumlah tempat hingga detik ini tetapi pepatah selalu tidak bisa bohong “semakin ditekan airnya akan menyebar kemana-mana”. Hal ini terbukti populasi Kristen mengalami peningkatan sangat pesat. Menurut BPS sejak tahun 1980-2010, populasi Islam Indonesia terus menurun dari 90% menjadi 85,1%. Menurut survei kecenderungan akan terus menurun hingga tahun 2050 diprediksi sekitar 84%. Dari sisi presentase penambahan umat baru, Islam kalah jauh dibandingkan Kristen. Kristen dalam hal ini mencakup semua aliran yang ada di Indonesia.

Kalau dikaitkan semua aksi kekerasan sejak bom Bali, teror yang ditebar dimana-mana, radikalisme dan tekanan kepada kaum minoritas yang masih terjadi dan semakin liarnya ormas beringas yang didukung oleh beberapa tokoh senior yang kehilangan akal, maka dapatlah dengan mudah kita simpulkan bahwa ini semua adalah bentuk kekalapan terhadap angka jatuh!

Kekalapan yang dibungkus untuk membela agama bisa kita andaikan seperti orang-orang kesetanan memborong saham-saham yang jatuh dengan membabi buta di Bursa Efek. Setelah 16 tahun alih-alih saham naik mereka semakin menggigil di musim yang tidak pernah bersalju

Sangatlah normal, setiap agama berusaha menyebarkan apa yang diyakininya benar tetapi menjadi abnormal kalau disampaikan dengan cara pemaksaan kehendak yang disertai aksi anarkis. Angka sama sekali belum tentu merefleksikan iman walau angka bisa mengukuhkan posisi tawar ekonomi dan politik di dalam berbangsa.

Kita masih ingat mulut besar yang klaim angka 7 juta dalam aksi 212? Ya! Seperti itulah mereka hidup selama ini dari phobia angka-angka sambil terus memproduksi phobia Islam kepada publik. Mereka berpikir untuk meraih jumlah umat seperti menaikkan angka saham yang anjlok. Perilaku anarkis yang mereka kedepankan hanya akan semakin menjatuhkan angka lebih dalam lagi. Seperti kata Gus Mus, “Bahwa tindakan anarkis merekalah yang menodai agama”.

Selama setan-setan itu masih berkeliaran dan katakanlah suatu hari dunia dikuasai Islam, dengan cara kekerasan, pemaksaan disertai intimidasi maka dunia juga tidak akan pernah damai! Jadi kita semua bertanya termasuk Islam Moderat bertanya dengan keheran-heranan, sebenarnya mereka mau apa selain membuat kekacauan?

Kita sangat menyesal hadirnya tokoh-tokoh Islam senior yang tidak bisa mengambil posisi dengan tepat, ternyata pergaulan internasional seseorang membuat pikiran mereka semakin memendek. Sumbu yang ada telah pendek malah dibuat semakin pendek oleh mereka.

Setelah kau membaca dengan teliti dari ketiga analisa itu, dapatkah kau lihat sebuah konklusi yang jernih tentang pergerakan jumlah ketiga agama Samawi (dalam hal ini agama Yahudi tidak begitu dititikberatkan) bahwa satu belahan mengalami penurunan, belahan lain mengalami peningkatan. Di sana mati di sini hidup namun selalu ada yang jatuh ke oase lain. Akan begitu seterusnya..sampai dunia ini mencapai kesetimbangannya kembali tanpa memedulikan jumlah!

Setelah tahu soal ini apakah kalian akan baper sepanjang masa soal jumlah????

Teologi Budha sudah mengatakan, “Kamilah jalan tengah itu”!

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU.LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply


9 − = 3