Blogs

PERADABAN YANG PERLU DIPERTAHANKAN JIKA TERJADI KEHANCURAN SPESIES BUMI PILIHAN PERTAMANYA BHUTAN {THE CIVILIZATION MUST BE PRESERVED IF RUIN OF THE EARTH'S SPECIES OCCURRED FIRSTLY SELECTED FOR BHUTAN}

Giharu Si Perempuan Gunung

Sampai Ke Bhutan

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Sampai juga ke Bhutan. Perjuangan Sobobanyu ini sungguh sangat menakjubkan, membawa siapa saja yang ingin terbang bersama menembus batas imajinasi. Batas geografi sungguh hanya retorika. Kalau hanya mengeluarkan tangan dari jendela untuk meraih keindahan juga tidak mampu kau lakukan mungkin yang tersisa di tulangmu antara hidup segan mati juga takut.

Sungguh aku tidak menyangka program Sobobanyu ini akan mempertemukan dua dunia dalam selembar permadani yang membawa kami terbang pada pandangan yang sama. Menyaksikan sebuah ‘kehidupan’ yang roh penjaganya adalah gunung-gemunung. Kalau sampai ada jalan kau temui di sudut yang sunyi itu, pasti jalan-jalan itu dibangun dari material cinta. Teknologi hanya berfungsi menyediakan sedikit kemudahan namun cintalah sumber segala sesuatu. Bahkan untuk membuat sepotong besi yang paling keras juga diperlukan cinta yang besar.

Hanya cintalah yang mampu membawa manusia pada tingkat pemahaman yang paling tinggi dan mengatasi segala hal yang tersembunyi di dalam hati. Kalau sampai ada lampu yang bisa menerangi jalanmu di sana maka kembali dipastikan lampu itu bahan bakarnya berasal dari cinta. Demikianlah, selalu dan begitu; sebuah tujuan yang dibangun dari cinta. Indah dan akan selalu indah namun dengan harga mahal harus dibayar.

Teman-teman Bhutan yang baru bertemu di Linkedin pertama kali yang telah bergabung sebagai Petaru (Pendukung Cita Giharu), yaitu Saudara Sangay Wangdi dan Saudara Karma Wangchuck sungguh memberi pengertian yang sangat mendalam untuk memperjuangkan program “Rencana Pembangunan Candi Air Sobobanyu (RPCAS)“. Demikian juga aku harapkan kehadiran kami lewat Petaru juga memberi manfaat untuk kalian berdua.

Untuk RPCAS khususnya, aku merasa dukungan Saudara Sangay Wangdi dan Saudara Karma Wangchuck adalah tanda kami tidak berjuang sendiri. Semesta selalu membela dengan memberi jalan.

Hello, Sangay Wangdi dan Karma Wangchuck, tulisanku ini seperti janjiku untuk memperkenalkan kalian lewat situs ini dan kalau kalian membaca sampai paragraf ini, coba lemparkan pandangan jauh ke sebelah Tenggara, lalu mendarat ke tempat aku berada kini sambil menyetel lagu dari Enya, Only Time di bawah. Dapatkah kalian rasakan gunung mengikat kita? Tidak semua Petaru yang bergabung bisa menggerakkan hatiku menulis, kalian beda. Kalian mendapat perhatianku karena kalian adalah Bhutanese; manusia-manusia bahagia! Hanya orang yang merasa bahagia yang akan mudah menangkap sinar kebahagiaan orang lain.

Rasanya dadaku agak lapang, seolah-olah gas GNH (Gross National Happiness) yang mereka raih sebagai rakyat Bhutan bersatu dengan GPH-ku (Gross Personal Happiness). Pesannya pada dunia seperti bola salju menggulung dari Puncak Utara Himalaya—pekerjaan yang dilakukan dari rahim cinta akan melahirkan cinta, melampaui batas, menyentuh semua sendi dan sampai mata ini tutup pun tidak akan berkesudahan keindahannya: Ini adalah fundamental mengapa kami bisa saling terkoneksi seringan kapas. Tidak ada yang kebetulan karena hidup mempunyai misterinya.

Walau terasosiasi dengan ekonomi berbagi dengan program mutualisme yang aku bangun lewat Petaru yang memungkinkan kami bisa saling mendukung, aku dengan program sosialku dan mereka dengan bisnisnya namun sekali lagi bukan karena urusan isu sekuriti apalagi ekonomi yang menyatukan kami. Dunia terkoneksi karena hanya ada urusan cinta, ekonomi dan sekuriti. Aku rasa Sangay Wangdi dan Karma Wangchuck sudah mulai mendapat pemahaman yang satu jurus bahwa cintalah yang menyatukan kami.

Sangay Wangdi dan Karma Wangchuck adalah pengusaha kecil di bidang tur dan trek (profil mereka silakan klik logo di bawah video “Petaru Talks” di sebelah kanan pada beranda). Dari 1500 agen tur di Bhutan mungkin mereka hanyalah bunga-bunga liar tanpa nama di kaki gunung Himalaya, dukungan sebesar 700 USD untuk bergabung dalam Petaru sangatlah tidak kecil bagi mereka dan aku sangat menghargainya dan rasa terima kasih tidak terhingga atas kepercayaannya. Ini adalah kehormatan bagiku, YPG dan seluruh Tim Sobobanyu. Ketika mendengar pernyataan Sangay “kami bukan orang kaya tetapi bahagia” aku seperti mendapat trek yang selama ini aku cari; “Aku akan memulai dari Bhutan“. Yesss!!!

Sangay Wangdi dan Karma Wangchuck adalah jalanku untuk berbicara kepada dunia lewat Bhutan dan aku jalan bagi mereka untuk masuk ke Indonesia bagi bisnis mereka. Aku yakin kami telah menerima dengan tangan terbuka, tentang masing-masing kekuatan dan kelemahan dan menawarkan suatu pembangunan saling pengertian antarbangsa. Struktur kerjasamanya jelas memakai model Philanthropist to Business dan semoga sampai ke tingkat Philanthropist to Government).

Tentang Bhutan Anda bisa googling, banyak informasi bertaburan di sana. Aku tidak tertarik menulis kembali apa yang telah ditulis orang-orang seperti yang dilakukan banyak blogger untuk sekedar meraih iklan. Namun alasan aku ingin memulai dari Bhutan ini perlu diberi spidol merah. Ini terkait dengan tujuan dan peran yang aku ambil sebagai penulis yang membangun perimbangan dan pengertian bangsa-bangsa. Ajakanku untuk lebih mengejar nilai daripada materi telah mempunyai bukti ketika Bhutan satu-satunya negara di dunia yang mengukur kebahagiaan sebagai tolok ukur pembangunan. Sebagai sebuah kerajaan dalam daratan yang terkunci di lembah-lembah dan kaki-kaki perkasa Himalaya, Bhutan boleh dikata adalah perlambatan dari percepatan dunia, karena surplus kebahagiaan.

Kalau ingin menjadi pintar maka pergilah ke negeri China namun untuk menemukan kearifan hidup harus pergi ke Bhutan.

Bhutan menjadi sangat spesial bagiku karena pesan-pesan yang ingin aku sampaikan kepada publik telah menjadi daya hidup mereka, sehari-hari dan turun-temurun. Tidak berlebihan kalau aku katakan Bhutan adalah laboratorium kearifan manusia terbesar namun dalam arus modernisasi tidak bisa dibendung oleh siapapun dan akhirnya, sebagai negara terakhir yang memakai televisi aku sangat berharap kearifan yang diajarkan gunung terus terjaga sampai kapanpun di Bhutan.

Terkait dengan RPCAS, perjuangan Sobobanyu ini lumayan membuat kepala panas dan rambut yang berguguran tidak terelakkan lagi. Kendala selalu ada, itu biasa dalam berjuang. Aku selalu dan selalu tidak ingin meletakkan dana sebagai masalah utama walau benar tanpa dana Sobobanyu tidak bisa terealisasi namun ketika dana dijadikan perlindungan maka seketika itu juga keindahan Sobobanyu lenyap. Aku rasa semua tim setuju pada pilihan untuk merealisasikan Sobobanyu seperti membuat bakpau yang halus, lembut, putih dan manis karena diolah dengan penuh cinta. Cinta memberikan kemampuan dalam kesabaran dan ketelatenan karena kualitas dan jangka panjang adalah tujuan cinta. Bakpau yang keras, permukaannya yang kasar dan warnanya yang butek dan tidak enak dimakan seperti mendirikan Sobobanyu menjadi sebuah kolam tanpa perbendaharaan, apakah pembangunan bisa menyelesaikan masalah bukan menjadi urusan, pokoknya jadi proyek seperti yang kita ketahui proyek-proyek pemerintah yang dibangun dengan hati bercabang. Mangkrak atau terbangun tetapi fungsinya tidak masuk ke angka minimal sekalipun.

Mata gadis kecil di lereng Sindoro yang menggigit labu memang selalu memberi inspirasi namun yang aku pikirkan sebentar lagi musim kemarau akan tiba. Dua minggu lalu aku lihat petani Sindoro Sumbing hampir selesai memanen jagung, artinya jagung pengganti beras mulai dipersiapkan karena masa tidak menentu dalam durasi yang sangat panjang akan dihadapi—ladang akan ditanami tembakau kembali—suatu nasib yang sama akan ditutur lagi dalam buku kehidupan manusia-manusia lereng.

Tulisan ini terkait Sobobanyu adalah salah satu caraku berbicara kepada semua pihak agar ambil bagian dalam pembangunan irigasi Sobobanyu, hanya cukup bergabung dalam program Fundraising di bawah (program pembelian buku tidak langsung). Menulis sampai 1000 artikel pun akan aku lakukan untuk mendekati hati yang bisa tersentuh yang mungkin masih berada jauh dari garis-garis magnetis kami. Kuharap mendekatlah sobat kehidupan…

Karena manusia bagaikan angin, datangnya dari mana dan perginya entah kemana tidak ada yang mengetahui dengan pasti begitu juga dengan dukungan yang kami terima adalah bagian dari misteri Sobobanyu, namun keagungan Tuhan bisa ditemui dalam hidup dan mati yang bahagia. Bhutan telah memimpin.

:: Sebuah lagu dari Enya, Only Time,

 
Banyak informasi RPCAS yang sudah kami sediakan sampai hal-hal teknis di situs ini, silakan mulai dari Program Irigasi.

Semua #TurunTangan. Mohon dukung Rencana Pembangunan Candi Air Sobobanyu: Sebuah sistem irigasi gunung yang memerdekakan jiwa! BANTU AKU UNTUK BANTU KITA. Ambil bagian dalam Program Petaru atau untuk kontribusi lebih besar dalam Program KNIH.

Ini tulisan ke-8 terkait Sobobanyu, dengan judul panjang “Sampai Ke Bhutan: Sobobanyu Pembangunan Jiwa“.

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU. LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply


9 + 6 =