Blogs

HATI NURANI ADALAH BASIS KEBERLANJUTAN KEMANUSIAAN MODERN SETELAH MANUSIA BERAGAMA {CONSCIENCE IS THE BASIS OF SUSTAINABILITY OF MODERN HUMANITY PASCA RELIGION WAS SPREAD}

Post Sens

Sensivitas

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Setelah puluhan tahun beragama, aku baru kali ini memikirkan agama. Hilangkan pikiran diriku sedang ragu dengan agama yang kupilih; aku seperti biasa suka memikirkan sesuatu hal. Apakah ini terkait karakterku yang cenderung setia pada pilihan yang telah kuambil atau ini terkait imanku yang kuat kukira bukan itu yang ingin kubahas. Apa yang kurasakan sejak dulu adalah aku selalu rindu dan haus untuk menemukan dimensi suci dan aku mendapatkannya jalan lewat agamaku itu. Kukira pada suatu masa sebagai orang beragama akan mengalami bukan aku lagi yang mencarinya, tetapi Dia yang memanggilku. Sentuhan-sentuhan itu telah berkontribusi pada pembentukan jiwa yang lebih matang dan menjaga sensivitas hati nurani dalam kondisi cukup hingga hari ini. Namun aku juga yakin, seumpama aku tidak beragama sekalipun akan tetap menjadi Giharu yang memperjuangkan hati nuraniku.

Di dalam agamaku begitu kaya dengan berbagai sarana, bantuan dan fasilitas yang bisa dimanfaatkan umatnya agar semakin dekat kepada yang Ilahi. Semakin kita dekat pada keilahian kukira kita juga semakin mudah menangkap dimensi suci dari penyebut agama yang lain. Jadi tidak mengherankan kalau jiwa kita bisa menjadi tenang saat dengar lantunan doa-doa atau lagu-lagu rohani dari agama dan aliran kepercayaan lain. Kita tidak perlu mengerti bahasanya karena semua keindahan spiritualitas itu punya frekuensi surgawi yang sama sehingga jiwa kita mudah mengenalinya. Seperti yang diriku alami; aku bisa dengan mudah menikmati azan, nyanyian orang Budha versi Tibetan, suatu aliran kepercayaan dari India atau dari suku Indian. Aku kadang sengaja mencari bentuk dunia spiritualitas lain dari berbagai kelompok di belahan dunia termasuk juga dari suku-suku purba di Afrika.

Justru yang membuat heran adalah kok ada orang beragama bisa ngamuk dan membakar rumah ibadah gara-gara mendengar lantunan surgawi dari agama lain; kukira inilah saatnya kita sama-sama merenung mengapa kita perlu beragama dalam dunia yang terus berubah.

Manusia tidak akan kehilangan sensivitas jikalau masih memperhatikan apa yang dikatakan sensor. Sensivitas terletak pada kualitas sensor. Mempunyai sensivitas adalah mempunyai kemampuan merasakan atau mengukur suatu kejadian hal ini benar itu tidak benar, yang A baik yang B tak baik maka yang baik lakukan dan yang tak baik jangan lakukan. Sensor adalah sesuatu yang membangun sistem sensivitas di dalam perangkat kendali dalam bentuk peringatan-peringatan.

Tidak ada termometer yang bisa mendeteksi suhu dengan tepat kalau sensivitas air raksa telah rusak? Alat kontrol yang canggih tidak ada gunanya kalau sensivitasnya telah lemah. Termometer mahal karena air raksa di dalamnya.

Kalau dibawa dalam konteks agama sebagai sarana pengendalian manusia maka jika agama sebagai alat kontrol dengan segala ajaran dan larangannya maka hati nurani adalah sistem sensornya. Agama yang dijalani dengan ketat belum tentu berbanding lurus dengan sensivitas hati nurani. Dahulu manusia purba saling membunuh demi berebut sumber daya, setelah agama hadir kita kemudian mendapatkan orang-orang beragama membantai babi-babi dan anjing atas perintah agama dan sekarang pada abad modern ini yang paling mengerikan orang beragama meneriakkan nama tuhan sambil menggorok leher orang.

Termometer tanpa air raksa tidak akan berguna begitu juga agama tanpa hati nurani adalah kesia-siaan. Pada akhirnya manusia dan segala isi bumi ini belaka, demikian juga agama akan musnah namun Tuhan akan selalu abadi.

Agama tanpa sensivitas hati nurani akan mengembalikan manusia pada sifat kebinatangannya. Inilah paradoksal agama; agama diciptakan untuk mengurai masalah manusia dan membuat manusia lebih baik, tetapi justru sebaliknya agama menimbulkan masalah pada manusia; kukira inilah salah satu penyebab yang melahirkan gerakan agnostik?

Ukuran agama itu baik atau tidak baik apabila dihadapkan pada kehidupan bersama. Semakin plural masyarakatnya semakin suatu ajaran agama teruji apakah bisa menjawab tantangan zaman. Karena apalah arti memberi garam pada lautan kalau agama dikaitkan dalam rangka menyelamatkan manusia dari kebobrokan. Oleh sebab itu kelompok-kelompok yang memperjuangkan pemurnian agama tidak akan pernah mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang pluralistik karena mereka telah kehilangan sensivitas hati nurani. Mereka itu adalah orang-orang picik yang kalah dalam persaingan hidup dan kebetulan beragama dan memahami agama sesuai dengan kondisi pikirannya; agama dalam hal ini mungkin benar tidak mampu membuat mereka semakin manusiawi.

Hati nurani adalah basis pertahanan kemanusiaan kita setelah manusia beragama. Justru semakin manusia keras dalam agamanya masing-masing manusia semakin perlu memperkuat basis kemanusiaannya dengan terus menyalahkan suara hati.

Paradoksal agama terletak pada konsekuensi hati nurani yang tidak pernah mati. Sebagai bukti kemanusiaan lahir duluan sebelum agama adalah hati nurani—hati nurani sebagai sumber ajaran tertua dari semua ajaran dan bahkan yang paling murni karena berasal langsung dari sumberNya. Kitab suci selain berisi wahyu, perintah atau kisah-kisah tokoh, ajaran dan larangannya yang sering disebut lahirnya lewat jalan mistik Tuhan, juga kukira adalah berisi ajaran-ajaran tentang hati nurani. Justru karena ada jalan mistik Tuhan-lah maka hati nurani mengalami penjernihan di dalam kitab suci.

Dalam hal itu artinya hati nurani lebih penting dari perintah agama dan kalau ada perintah agama yang bertentangan dengan hati nurani kukira ajaran agama itu tidak benar atau pemahaman orang itu terhadap agamanya tidak benar.

Aku ingin menantang pemikiran Karl Max apakah benar kehadiran agama membawa masalah bagi manusia, namun melihat dunia yang semakin kacau apakah hal itu membenarkan pemikiran Karl Max bahwa agama tidak mampu menyelesaikan persoalan manusia. Dimana letak relevansi agama dalam pembangunan karakter manusia kalau pembangunan karakter manusia juga bisa dilakukan tanpa melalui agama? Karena kan memang ada orang tidak mengenal agama yang hidupnya sudah baik.

Bagaimanapun mengikuti suatu agama adalah mengikuti tokoh yang disucikan dalam agama tersebut. Untuk bisa mengikuti jejak tokoh suci tersebut itu dibutuhkan kesetiaan; secara cepat kesetiaan dalam hal ini bisa jadi adalah apa yang dinamakan iman dalam agama-agama. Ketika agama mengatakan menjadi manusia baik saja tidak cukup kalau belum mengikuti jejak tokoh suci di dalam agama; bisakah kita persepsikan bahwa ini adalah cara agama membentuk umat dengan cara membangun keimanan; agama butuh umat kalau tidak agama akan punah.

Aku kok lebih mengarah bahwa orang-orang yang dikenal baik kalau tanpa agama sekalipun menurutku ia akan tetap menjadi manusia baik kecuali ia butuh tokoh suci dalam suatu agama untuk membimbing sisi rohaninya agar semakin dekat kepada keilahian.

Intinya, agama tidak bisa dan bisa berkorelasi terhadap sensivitas hati nurani. Sensivitas hati yang tidak bekerja dengan baik seperti hati nurani terkena sirosis. Mengeras dan menjadi bebal. Sensivitas hati nurani akan melemah bahkan hilang sama sekali kalau ia sengaja dilanggar dan tidak dihiraukan secara terus-menerus seperti air raksa yang akan rusak kalau terpapar sinar matahari setiap hari.

Oleh sebab itu mungkin benar agama punya potensi mematikan sensivitas hati nurani seseorang?

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU. LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.