Blogs

BILA MANUSIA BISA MEMPERTAHANKAN KEJERNIHAN HATINYA IA PASTI BISA MENEMUKAN CACAT DALAM PROSESNYA WALAU HANYA SEBUTIR PASIR HALUS {IF ONE CAN KEEP THE CLARITY OF HEART DEFINITELY ONE CAN FIND DEFECT IN ONE'S PROCESS EASILY WHICH IS ONLY A FINE SAND}

Post Isl

Islam Di Mataku

FacebookTwitterLinkedInShare
 

Sedikit berbagi pengalaman, dahulu diriku bersekolah di negeri semua dari SD-SMA. Sewaktu di SD, aku merupakan murid kesayangan guruku yang bernama Pak Husin. Pak Husin dan istrinya beragama Islam, tetapi istrinya tidak berjilbab. Dari semua guruku, hanya ada satu yaitu guru agama Islam yang memakai jilbab, sebut saja Ibu A. Karena pada masa itu guru agama non muslim belum ada di sekolah kami, murid non muslim jadi ikut kelas agama Islam. Aku tidak begitu ingat bagaimana kisahnya kok akhirnya kami jadi ikut kelas agama Islam, tetapi yang selalu aku ingat Ibu A tidak pernah menyuruh anak-anak memakai jilbab dan semua kawan-kawanku yang beragama Islam juga tidak memakai jilbab walau saat belajar agama. Intinya pengalamanku belajar Islam di SD tidak meninggalkan memori buruk tentang Islam.

Kalau kukatakan begitu mungkin ada yang langsung nyinyir dan menghakimi kadar iman Ibu A kurang atau ilmu agamanya masih cetek. Bagi yang sewot setelah membaca tulisanku ini silakan saja, tetapi perlu mengarisbawahi bahwa persepsi Islam di mataku saat itu Islam itu agama yang adem dan jangan kalian nodai.

Berdasarkan memori yang baik yang tetap tinggal dalam pikiranku tentang Ibu A dan terkait jilbab yang dipakai Ibu A, aku meyakini beliau memakai jilbab karena terpanggil. Zaman dulu orang memeluk agama lebih suci karena dunia tidak sekompleks sekarang dan tentu intervensi partai belum begitu nyata. Saat itu partai belum begitu ‘serem’ mempolitisasi agama tidak seperti sekarang agama dijual dengan sangat murah sekali sehingga aku sangat percaya pada zaman itu orang beragama lebih luhur dan mengoneksikannya dengan gerakan hati nurani tanpa kehilangan kewarasan. Jadi pendapatku bahwa Ibu A berjilbab karena benar-benar hatinya terpanggil sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Bila seseorang melakukan sesuatu karena panggilan maka kuyakin Ibu A mempersepsikan jilbab adalah kehormatan dan rasanya sangat relevan jika ia tidak menganjurkan apalagi memaksakannya kepada murid-muridnya yang belum mengerti arti panggilan. Aku tidak akan masuk ke ranah yang aku tidak punya kapasitas baik itu terkait akidah dan atau pertentangan tentang jilbab itu wajib atau tidak, aku meninjau dari pandangan umum dan belum masuk ke teori psikologis kerohanian jadi kukira Ibu A mengerti betul bagaimana anak-anak ingusan bisa paham soal untuk menjaga sikap sebagai konsekuensi memakai jilbab. Selain maksud jilbab katakanlah untuk menunjukkan atau memisahkan aku Muslim kamu non Muslim, sebenarnya jiwa anak-anak itu masih putih jadi rasanya mubazir menutupinya dalam pandangan umum.

Sembilan tahun berikutnya yaitu di SMA, akhirnya aku bertemu dengan dua kawan turunan Arab memakai jilbab. Hanya mereka berdua yang memakai jilbab dan salah satunya adalah sahabat karibku. Kami dekat selain faktor kecocokan mungkin juga ada faktor kami selalu duduk satu meja selama 3 tahun. Sahabatku sering mengeluh kepadaku ia merasa terpaksa memakai jilbab karena diwajibkan keluarganya.

Zamanku dulu, kami begitu polos bersekolah, bermain dan kalau hari raya saling mengunjungi dan tidak sampai kepikiran sedikit pun bahwa kami ini berbeda. Aku punya banyak sekali kawan baik beragama Islam saat SMA. Aku ingat lagi seorang kawan yang bernama Revaldo yang sangat baik kepadaku. Aku sering ditraktir olehnya. Ia anak orang kaya dan kami cukup sering ke rumahnya belajar kelompok, sedikitpun aku tidak mendapat kesan sinis dari wajah ibu bapaknya saat menerima diriku non muslim dan Cina pulak.

Zaman dulu persepsi tentang Islam lebih positif di mata non Muslim dan pada saat itu populasi Islam mencapai puncaknya dan ketika jiwa agresor ditampakkan yang maksudnya mungkin untuk menyelamatkan populasi Islam tetapi yang terjadi justru sebaliknya fobia Islam merebak dimana-mana. Hal ini semakin memperlemah citra Muslim.

Zaman dulu pikiran kita tidak mudah terkonotasi ke hal yang kotor, tidak seperti sekarang kalau melihat orang berjilbab jadi ingat koruptor Atut atau ketemu ibu-ibu berjilbab jadi alergi karena ingat congor emak-emak berjilbab seperti iblis.

Mengapa orang-orang sekarang mengaku beragama, tetapi tingkah lakunya sangat buas? Bila manusia bisa mempertahankan kejernihan hatinya ia pasti dengan mudah menemukan cacat dalam prosesnya walau hanya sebutir pasir halus.

Dari atas gunung melihat wajah Indonesia hari ini sangat menyedihkan sekali karena sejak balita, kepolosan berpikir anak-anak kita telah dicerabut dengan paksa karena perbedaan; yang berjilbab adalah saudara ‘sesama Muslim’ dan tidak berjilbab bukan saudara ‘karena mereka non muslim’. Kalau sejak kecil saja sudah ditanam aku Islam kamu kafir lalu bangsa ini mau dibawa kemana?

Baca juga: Kontroversi Jilbab.

Baca juga: Jilbab & Pekaes.

 

PENTING! SEMUA INFORMASI SITUS DILINDUNGI UU. LIHAT SYARAT & KETENTUAN PEMAKAIAN

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.